Cempedak & Pulasan?
I did mention a few posts back that I regreted that I wrote Cempulan. I can't explain why and how. It somehow represents my ongoing conflict/confusion/disoriented feeling and whatnot with the opposite sex and God quite accurately. This song is much more powerful than Panggilan. Much much more. My best "Ibunda-Pop" to date. I'm thankful that my songwriting maturity has increased steadily. I've found my palette...
Cempulan
Alaslah segala alasan perasan perasaan mu itu,
Berat bibir ku untuk ku bertutur luhur dikala kau berlibur,
Ku merenung ke bulan dan awan idamkan apa yang kau fikirkan,
Mentari pagi ini menyinari kendi dan malam ku kian sepi,
Tanpamu, disisi...
Ranum sekali hati si Dang Anum yang kagum dicium si kacak harum,
Cepat pucat kelat jiwa kelibat Hang Jebat mengesat keringat tersejat,
Pernah dahulu kau endahkan aku tersedu diriku mencari hala tuju,
Habis selapis dilukis ceritera magis penyudah sebuah kisah tragis,
Kiniku, menangis,
Akan ku nanti disitu,
Di gerbang alam keronika mu...
Benarkah kau teruja?
Ingin aku bercanda dengan hikayat mu,
Perlukah kau berdusta?
Ku anyam seluruh ragaku,
Dengan kasih mu,
Menjadi penawar kencana,
Penyingkap rasa yang berduka,
Gemalai ayu tingkah mu,
Membisik ke sukma ku...
Berhembus embun dikala ku mengelamun mimpi ku disamun dikau penyamun anggun,
Tiada khabar perihal sejak ku dibedal kau khayal lantas ku hilang akal..
Benarkah kau teruja?
Ingin aku bercanda dengan hikayat mu,
Perlukah kau berdusta?
Ku anyam seluruh ragaku,
Dengan kasih mu,
Menjadi penawar kencana,
Penyingkap rasa yang berduka,
Gemalai ayu tingkah mu,
Membisik ke sukma ku,
Telah ku sahut sahutan sang penghasut,
Syahadan kiniku kesayuan,
Terungkap sudah hari-hari yang pergi dan tak akan kembali,
Sudahlah,
Relakan ku mengalah,
Cukuplah.....

0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home